Unconditional Love

Lima tahun usia pernikahanku dengannya, sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan di antara kami.

Kami bertengkar karena hal-hal kecil.

Karena dia lambat membukakan pagar saat aku pulang dari kantor.

Karena meja di sudut ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku. “buang-buang uang saja” begitu hardikku.

Hari ini adalah ulang tahunnya. Kami bertengkar pagi ini karena dia terlambat membangunkanku.

Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa ku lakukan di hari ulang tahunnya tak mau ku lakukan.

Malam sekitar pukul 7, dia sudah berulangkali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya. Tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan; membayangkan pulang; dan bertemu dengannya, membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, 2 jam perjalanan kutempuh yang biasanya hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai dirumah.

Kulihat dia tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA Kelas 1 semester akhir; yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik…”

Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku cokelat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun dia menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah sekalipun ia mengijinkanku untuk membukanya.

Inilah saatnya! Aku tak memperdulikan istriku, kuraih buku cokelat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

25 Februari 1997

Terimakasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, seseorang yang akan menjadi penjaga terakhirku.

Hmm… aku tersenyum, yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2002

Tak sengaja kulihat dia makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar dia tidak pindah ke lain hati.

Jantungku serasa mau berhenti..

23 Oktober 2002

Aku menemukan sms ucapan terimakasih untuk dia, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melati (Nama samaran, red 😛 ). Siapakah dia Tuhan?

Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui…

Jantungku benar-benar mau berhenti. Melati, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengannya telah mencapai 5 tahun.

4 Januari 2003

Aku dihampiri wanita bernama Melati, ia menghinaku dan mengatakan bahwa pacarku berselingkuh dengannya. Tuhan, beri aku kekuatan…

Bagaimana mungkin dia sekuat itu? Ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah mengkhianatinya, Aku tahu Melati, Melati pasti telah membuat hatinya hancur dan sangat terluka dengan kata-kata tajam dari mulutnya.

Nafasku sesak… tak mampu kubayangkan apa yang dirasakannnya saat itu.

25 Februari 2003

Dia melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan, apa yang harus kulakukan? Berikan Aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil..

25 Februari 2004

Hari minggu yang luar biasa, Aku telah menjadi Nyonya dari suami sah ku 😉 Terimakasih Tuhan..

18 Juli 2006

Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan the untuknya. Tuhan, Bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan the untuk suamiku..

7 April 2007

Dia marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada di Mall mencari jam idamannya, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hatinya agar ia tidak marah lagi padaku.

Aku tidak akan tidur di sore hari lagi kalau dia belum pulang walaupun aku lelah..

Aku mulai menangis, ia mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak ku sadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007

Ia perlu meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, ia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, Bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja..

Aku tak dapat menahan tangisanku, dia tak pernah mengatakan meja itu hadiah untuk ku..

Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Dia sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat.

Aku berlari keluar kamar, kukecup keningnya dan ia terbangun…

“Maafkan Aku.. Aku mencintaimu, Selamat Ulang Tahun…”

————————–

NB:

*Jika terdapat kesamaan nama atau kejadian, percayalah itu hanya kebetulan belaka 😉

3 komentar pada “Unconditional Love

  1. huhuhu..cerita yg mengharukan..
    sampai2 aq meneteskan air mata..
    smoga suami2 d luar sana yg spt crita d atas sadar bahwa istri mrekalah yg t'Baik

Comments are closed.