Contoh dari Pengusaha Sukanto Tanoto dalam Bersaing di Pasar Internasional

Sukanto Tanoto
Image Source:RGEI.com
http://www.rgei.com/about/our-leadership/sukanto-tanoto

Pengusaha Sukanto Tanoto merupakan satu dari segelintir pebisnis Indonesia yang mampu bersaing di level internasional. Ia sangat berharap banyak pengusaha lokal yang mengikuti jejaknya. Pendiri Royal Golden Eagle (RGE) ini bahkan mau mencontohkannya dengan baik.

Sukanto Tanoto lahir Belawan pada 25 Desember 1949. Ia merupakan sulung dari tujuh bersaudara. Ayahnya merupakan seorang imigran asal Fujian yang sehari-hari berdagang minyak dan onderdil mobil untuk menghidupi keluarganya.

Namun, lewat perjuangan keras, Sukanto Tanoto mampu membesarkan RGE. Perusahaannya itu mampu bertransformasi menjadi korporasi kelas internasional. Predikat yang didapat berkat kemampuan grup yang lahir pada 1967 itu untuk bersaing di pasar global.

Saat ini, RGE memiliki tujuh unit perusahaan yang berada di berbagai tempat di belahan dunia. Tidak hanya di Indonesia, perusahaan tersebut juga ada yang berbasis di Tiongkok, Brasil, Kanada, dan Eropa.

Mereka semua menggeluti industri pemanfaatan sumber daya. Unit bisnis RGE ada yang berkecimpung di industri kelapa sawit, selulosa spesial, serat viscose, pulp dan kertas, serta minyak dan gas. Berkait itu, aset RGE tercatat memiliki aset hingga 18 miliar dolar Amerika Serikat dan mempekerjakan sekitar 60 ribu karyawan.

Perusahaan Sukanto Tanoto itu bukan perusahaan sembarangan. Mereka bisa menjadi contoh bagi yang lain. Pasalnya, mereka semua mampu bersaing di pasar global. Bukan hanya yang ada di luar negeri, perusahaannya yang berbasis di Indonesia juga mampu melakukan hal serupa.

Sebagai contoh adalah Grup APRIL. Sukanto Tanoto mendirikannya pada 1993 di kawasan Pangkalan Kerinci, Riau. Kini mereka tercatat sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar di dunia.

Predikat itu bisa diperoleh berkat kapasitas produksi yang mampu digapai oleh APRIL. Setiap tahun, mereka mampu menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton. Itu masih ditambah dengan produksi kertas hingga 1,15 juta ton.

APRIL merupakan salah satu perusahaan asal Indonesia yang mampu bersaing di pasar global. Sukanto Tanoto mampu membesarkan dan mengarahkannya untuk berkompetisi di level internasional.

Pencapaian tersebut tidak diraih dengan mudah. Ia harus melakukan banyak perjuangan sebelum mampu mengorbitkan APRIL.

Perlu diketahui, saat ini APRIL memiliki produk yang laris di pasar internasional. Mereka menghasilkan kertas premium yang diberi merek PaperOne. Produk ini begitu laris di luar negeri. Hal tersebut terbukti dari jangkauan pasarnya. Sampai sekarang PaperOne telah dijual di 70 negara.

Karena sangat disukai oleh pasar luar negeri, APRIL sampai mengatur alokasi distribusi PaperOne. Mereka membaginya menjadi dua porsi yakni untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri. Namun, sekitar 80 persen suplai PaperOne ditujukan untuk memenuhi keperluan global.

Fakta ini menandakan bahwa Sukanto Tanoto sudah mampu bersaing di pasar internasional. Ia membuktikan diri bahwa pebisnis asal Indonesia tidak kalah dengan pihak asing.

Namun, perjuangannya membesarkan APRIL tidak mudah. Sukanto Tanoto sebelumnya pernah gagal dalam menekuni industri pulp dan kertas. Tapi, kegagalan tersebut tidak membuatnya kapok. Ia justru menjadikannya sebagai pembelajaran sehingga pada akhirnya meraih kesuksesan di bidang yang sama bersama APRIL.

Kunci keberhasilan Sukanto Tanoto adalah kemauan keras untuk mengikuti standar global dalam industri pulp dan kertas. Ia berkeras untuk membawa perusahaannya memiliki kapabilitas layaknya perusahaan serupa yang sudah lebih dulu berada di persaingan internasional.

BELAJAR HINGGA KE LUAR NEGERI

industri pulp dan kertas global
Image Source: Aprilasia.com
http://www.aprilasia.com/id/our-media/galeri-media

Ketika Sukanto Tanoto memulai petualangan bersama APRIL, Indonesia belum menjadi pemain penting di industri pulp dan kertas global. Namun, ia tahu negara-negara yang menguasai sektor tersebut.

Menarik melihat nama Finlandia terselip di sana. Negara di kawasan Eropa itu mampu menjadi pemain utama di industri pulp dan kertas dunia. Padahal, sebagai daerah yang berada jauh dari khatulistiwa, untuk menumbuhkan pohon yang menjadi bahan baku membutuhkan waktu lama. Finlandia sampai memerlukan waktu hingga puluhan tahun sebelum bisa memanen pohon yang ditanam.

Hal ini mengusik Sukanto Tanoto. Namun, ia tahu bahwa ada negara sesama tropis yang meraih kesuksesan di industri pulp dan kertas. Negara itu adalah Brasil. Maka, Sukanto Tanoto segera datang ke Brasil. Di sana ia mempelajari seluk-beluk industri pulp dan kertas.

Berkat itu, APRIL mampu meraih sukses. Mereka sanggup mengelola perkebunan dengan baik. Keuntungan kompetitif berada di kawasan tropis sangat dimaksimalkan. Akibatnya, mereka memiliki stok bahan baku yang besar.

APRIL mengelola perkebunan seluas 476 ribu hektare yang ditanami pohon akasia. Dikelola secara berkelanjutan, perkebunan tersebut mampu dipanen setiap lima tahun sekali. Ini akhirnya sangat mendukung pertumbuhan perusahaan.

“Butuh waktu enam tahun sebelum akhirnya kami menjadi kompetitif di tingkat global. Saya pergi ke Brasil untuk mempelajari teknologinya karena mereka mampu menumbuhkan pohon dengan baik dan memiliki pemanfaatan selulosa spesial yang apik,” kata Sukanto Tanoto.

Ilmu yang diperolehnya dari Brasil diterapkan di APRIL. Di sana perusahaan dikelola secara profesional sesuai dengan standar tinggi perusahaan kelas dunia. Ini dilakukan di segala bidang mulai dari hulu hingga hilir.

Dalam pengelolaan perkebunan, APRIL menjalankan Sustainable Forest Management Policy           (SFMP) 2.0 sejak 2015. Dengan ini, mereka menjamin kebun yang menyuplai bahan baku dikelola secara apik sehingga ramah untuk lingkungan. Tidak ada praktik membakar dalam membuka lahan perkebunan. Selain itu, dijamin tidak ada proses deforestasi dalam pembuatannya.

Bukan hanya itu, SFMP 2.0 juga menjamin APRIL melakukan riset kawasan bernilai konservasi tinggi. Mereka tidak akan mendirikan perkebunan di sana. Alhasil, hutan alam selalu terjaga.

Langkah ini penting sebagai standar global dalam pengelolaan perkebunan. Pasalnya, pasar internasional tidak akan menerima produk yang diperoleh dari perusahaan yang tidak memperhatikan kelestarian alam dalam operasional.

Itu baru dari pengelolaan perkebunan. Dalam sistem produksi pun APRIL menggunakan teknologi terkini. Contohnya adalah pemilihan desain pabrik khusus supaya proses produksi tinggi namun efektif dan efisien dalam berbagai hal.

APRIL saat ini menerapkan desain pabrik OptiConcept M yang ramah lingkungan. Perlu diketahui, OptiConcept M merupakan modular mesin untuk produksi pulp dan kertas yang berkelanjutan. Hal itu dikarenakan mesin ini mampu menghemat sejumlah hal mulai dari energi, air, hingga bahan baku.

Sebagai contoh OptiConcept M mampu menekan penggunaan energi hingga 30 persen jika dibanding dengan mesin serupa lain. Selain itu, tingkat penghematan serupa bisa diperoleh untuk kertas maupun bahan baku. Perusahaan Sukanto Tanoto ini menikmati penghematan serupa. Berkat pengoperasian pabrik dengan basis OptiConcept M, mereka bisa menghemat energi hingga mencapai 400 KW/ton kertas. Jumlah ini setara dengan penghematan batubara sebesar 71 ribu ton per tahun.

Dengan demikian, jejak karbon yang dihasilkan ikut berkurang. Sebab, ukuran pabrik yang diperlukan untuk mengoperasikannya juga semakin kecil Kalau dibandingkan dengan pusat produksi lain, pengoperasian OptiConcept M membutuhkan lahan 40 persen lebih kecil.

Efisiensi itu membuat APRIL bisa bersaing di pasar internasional. Pada akhirnya, perusahaan ini menjadi salah satu contoh nyata terkait kemampuan Sukanto Tanoto dalam bersaing di tingkat global.