Catatan Perjalanan Jimmy Ahyari

Konservasi di Mata Sukanto Tanoto Malah Menjadi Aset

Konservasi
Source: Kompas.com

Pengusaha Sukanto Tanoto berbeda dari para pebisnis kebanyakan. Chairman sekaligus pendiri grup Royal Golden Eagle (RGE) menilai konservasi bukanlah beban bagi perusahaan. Ia malah memandangnya sebagai aset.

Pandangan pria kelahiran Belawan pada 25 Desember 1949 ini cukup menarik. Ia mampu mengelola korporasi berbasis pemanfaatan sumber daya alam skala global.

Harus diakui, memang ada tudingan miring bagi perusahaan sumber daya alam. Dalam melakukan operasional, mereka dinilai sering melupakan kelestarian alam. Upaya konservasi pun dianggap tidak menjadi prioritas mereka.

Akan tetapi, Sukanto Tanoto tidak seperti itu. Pebisnis yang dijuluki sebagai Raja Sumber Daya ini malah menganggap konservasi sebagai keharusan bagi perusahaannya.

Mengapa seperti itu? Sukanto Tanoto mengambil pola pikir seperti itu karena pengalaman bisnisnya yang panjang dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam. Mendirikan RGE sejak tahun 1973 dengan nama awal Raja Garuda Mas, ia tahu persis bagaimana arti penting konservasi, bukan hanya untuk bisnis tapi juga untuk kehidupan manusia.

Oleh karena itu, ia malah mewajibkan semua anak perusahaan RGE agar selalu memerhatikan lingkungan. Praktik konservasi menjadi salah satu hal yang harus dijalankan.

“Saya percaya bahwa konservasi sejatinya bukanlah beban bagi industri. Sebaliknya, jika dilakukan dengan tepat, hal itu malah menjadi aset,” kata Sukanto Tanoto.

Pandangan Sukanto Tanoto tepat. Selama ini, ia terbukti sukses mengembangkan RGE. Padahal perusahaannya itu selalu melakukan operasional yang bertanggung jawab kepada alam. Bagi sebagian pihak, hal itu dianggap sebagai beban. Namun ternyata RGE bisa menjalankannya dengan baik.

Hasil yang dinikmati juga terbukti positif. Dari perusahaan skala lokal yang memproduksi kayu lapis, RGE tumbuh menjadi korporasi global dengan beragam industri berbeda. Kini perusahaan yang beraset 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan 60 ribu orang itu berkecimpung dalam industri kelapa sawit, pulp dan kertas, selulosa spesial, serat viscose, dan pengembangan energi.

RGE juga tidak hanya ada di Indonesia. Cabang dan anak-anak perusahaannya ada pula di luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Brasil, Kanada, serta Tiongkok.

Sukanto Tanoto menilai kesuksesannya itu tak lepas dari kemauannya dan RGE secara umum untuk bersahabat dengan alam. Ia yakin jika mau merawat, alam malah akan memberi lebih.

“Saya percaya teori bahwa manusia harus bisa hidup selaras dengan alam, terutama dengan memberinya penghargaan yang tinggi. Hun Tsu juga mengatakan, ‘Jika manusia menjaga lingkungannya dengan baik, benda-benda yang hidup di sekitarnya akan memberinya hadiah untuk menghidupinya.’ Saya ingin menerapkan konsep ini dalam praktik nyata. Saya rasa saya menempatkan konservasi sebagai keyakinan khusus”, kata Sukanto Tanoto.

Untuk mempraktikkannya di tubuh RGE secara riil, Sukanto Tanoto memasukkan unsur kepedulian terhadap alam dalam filosofi bisnis perusahaan. Ia mewajibkan anak-anak perusahaan RGE untuk ikut aktif menjaga keseimbangan iklim. Langkah itu diharuskan bukan dalam tataran seremonial belaka, namun dijalankan dalam operasi keseharian perusahaan.

Saya selalu menekankan bahwa operasional kami harus memberi manfaat kepada orang dan negara di tempat kami berada. Dengan demikian perusahaan bisa bertahan dalam jangka waktu lama dan memperoleh keuntungan.

Ini dimaksudkan bahwa setiap langkah RGE selalu berpatokan kepada kelestarian alam. Apa pun keputusan yang diambil tidak boleh berujung terhadap kerusakan alam.

LANGKAH KONKRET DI RGE

Langkah KONKRET di RGE
Source: Asian Agri

Arahan ini membuat anak-anak perusahaan RGE berlomba-lomba dalam menjaga kelestarian alam. Grup APRIL yang bergerak dalam industri pulp dan kertas misalnya. Lewat unit operasionalnya, PT Riau Andalan Pulp dan Paper (RAPP) melakukan praktik konservasi secara nyata.

Hingga saat ini, RAPP sudah melindungi lahan seluas 419 ribu hektare. Mereka menjalankannya bersama-sama dengan para mitra pemasok jangka panjang.

Bukan hanya itu, APRIL juga mendukung penuh praktik restorasi terhadap lahan gambut yang sudah terdegradasi. Mereka berkomitmen menjaga kelangsungan kegiatan Restorasi Ekosistem Riau dengan mengucurkan dana senilai 17 juta dolar Amerika Serikat sejak 2013. Kegiatan ini berhasil memulihkan area seluas 150 ribu hektare yang sebelumnya rusak parah.

“Saya selalu percaya bahwa perlindungan lingkungan seharusnya tidak menjadi beban bagi perusahaan, tapi justru menjadi sebuah sumber daya yang kaya bagi perusahaan sepanjang hal itu dilakukan dengan perilaku yang baik dan komprehensif. Saya akan mengeluarkan uang untuk proteksi lingkungan, serta melakukan riset dan mengkajinya,” kata Sukanto Tanoto.

Upaya melindungi alam juga dilakukan oleh anak perusahaan RGE lain. Asian Agri misalnya. Perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit ini berusaha mencari solusi terbaik dalam pengelolaan limbah produksi. Hasilnya adalah sebuah terobosan bermanfaat, bukan hanya untuk alam tapi juga masyarakat di sekitarnya.

Asian Agri berhasil mengolah limbah cair kelapa sawit menjadi energi listrik berbasis biogas. Sebelumnya limbah cair ini hanya digunakan sebagai pupuk maupun sarana penunjang perkebunan seperti menjaga kelembapan tanah atau erosi. Namun, kini Asian Agri sanggup memanfaatkannya sebagai sumber energi.

Dengan ini, Asian Agri mampu meminimalkan penggunaan sumber energi fosil yang tidak ramah lingkungan. Biogas yang dihasilkannya menghadirkan energi ramah lingkungan yang terbarukan.

Hingga saat ini, Asian Agri telah membangun tujuh pembangkit listrik tenaga biogas. Mereka tersebar di tiga provinsi, yakni Riau, Jambi, dan Sumatra Utara. Hingga 2020 nanti, Asian Agri berencana sudah membangun 20 fasilitas serupa.

Langkah yang diambil Asian Agri ini ternyata tidak hanya berdampak positif bagi alam. Masyarakat juga menikmati keuntungan tersendiri. Mereka yang berada di sekitar kawasan pembangkit listrik Asian Agri ikut mendapat suplai listrik.

Asian Agri mencatat mereka telah berhasil mendukung energi listrik untuk 11.600 rumah sederhana. Tak mengherankan langkah ini membuat Asian Agri mendapat penghargaan Anugerah Energi Lestari 2017.

Unit bisnis RGE yang ada di luar negeri juga melakukan perlindungan alam seperti yang diwajibkan oleh Sukanto Tanoto. Asia Symbol contohnya. Mereka berhasil mengembangkan penyubur tanah dengan memanfaatkan cacing tanah yang ada di sekitar perkebunannya.

Hal ini merupakan terobosan penting. Sebab, lahan berlumpur biasanya tidak akan subur. Alhasil, kawasan itu tidak cocok sebagai perkebunan. Namun, perusahaan Sukanto Tanoto itu mampu mengolahnya agar layak ditanami.

“Saya rasa, sebagai pengusaha, asalkan punya kecerdasan dan niat yang baik, semua akan selalu menemukan cara untuk mengolah hal yang tersia-sia seperti ini,” ucap Sukanto Tanoto.

Selain beberapa contoh yang dipaparkan, masih banyak praktik perlindungan alam yang dijalankan oleh RGE. Hal ini menandakan bahwa RGE berbeda dari perusahaan sumber daya lain. Mereka peduli terhadap kelestarian lingkungan dan berusaha selalu melindunginya.

Semua itu berawal dari arahan tegas Sukanto Tanoto. Ia tahu bahwa alam akan memberikan yang terbaik jika dijaga. Oleh sebab itu, Sukanto Tanoto mewajibkan semua pihak di RGE selalu memberikan perlindungan terhadap alam.