Puisi Cinta (Patah Hati) Penggila SEO

Puisi Cinta Patah Hati versi SEO

Koq tiba-tiba melow? Mungkin Anda bertanya begitu? Ga papa kan sob? Toh ini blog Catatan Perjalanan Jimmy Ahyari *ngeyel* ❗ . Ups! Puisi Cinta (Patah Hati) Penggila SEO ini hanya mencoba mengingat-ingat pelajaran cara membuat puisi sewaktu SD. Mengapa? Siapa tahu nanti saya dipaksa untuk membuat puisi untuk seorang gadis 😆

Tapi, sebelum dilanjutkan, ada baiknya Anda berfikir 2x untuk membacanya. Mengapa? Karena tulisan ini murni tulisan iseng; –tidak ada tips SEO, tidak ada tips untuk keluar dari Google Sanbox, tidak ada tips untuk menghindari Google Panda, tidak ada tips agar PayPal tidak Limited, tidak ada tips Hack Chip Poker– yang saya buat hanya untuk sekedar merefresh otak agar kembali fit 😉

Berikut puisi yang saya buat untuk seseorang tepat pukul 2:33 dini hari dengan rima ABA-ABA:

Selengkapnya

Unconditional Love

Lima tahun usia pernikahanku dengannya, sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan di antara kami.

Kami bertengkar karena hal-hal kecil.

Karena dia lambat membukakan pagar saat aku pulang dari kantor.

Karena meja di sudut ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku. “buang-buang uang saja” begitu hardikku.

Hari ini adalah ulang tahunnya. Kami bertengkar pagi ini karena dia terlambat membangunkanku.

Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya, kecupan di keningnya yang biasa ku lakukan di hari ulang tahunnya tak mau ku lakukan.

Malam sekitar pukul 7, dia sudah berulangkali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya. Tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang. Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan; membayangkan pulang; dan bertemu dengannya, membuatku semakin kesal!

Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, 2 jam perjalanan kutempuh yang biasanya hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai dirumah.

Kulihat dia tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. “Ia sungguh cantik” kataku dalam hati, “Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA Kelas 1 semester akhir; yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik…”

Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya.

Aku langsung masuk ke kamar. Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku cokelat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun dia menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu. Sejak sebelum menikah, tak pernah sekalipun ia mengijinkanku untuk membukanya.

Inilah saatnya! Aku tak memperdulikan istriku, kuraih buku cokelat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

25 Februari 1997

Selengkapnya