Catatan Perjalanan Jimmy Ahyari

Tirulah Langkah Sukanto Tanoto Membuat Asetnya Berlipat Ganda

Sukanto Tanoto
Source: RGE

Miliuner muda semakin mudah ditemukan dalam dunia modern seperti sekarang. Mereka mendadak menjadi orang super kaya karena ledakan bisnis teknologi digital. Siapa pun pasti tertarik mengikuti jejak langkah mereka. Namun, semua yang serba mendadak justru identik dengan kegagalan yang mendadak pula. Lebih baik mengekor cara para pengusaha kawakan seperti Sukanto Tanoto.

Mengapa? Segala sesuatu yang instan belum tentu berujung bagus. Seseorang bisa saja memiliki banyak uang, namun ia belum tentu bisa mempertahankannya. Bahkan, tak sedikit yang “kaget” dengan perubahan hidupnya yang drastis sehingga terjebak ke hal-hal negatif.

Oleh karena itu, pengalaman panjang para pengusaha papan atas yang sudah kenyang dalam menghadapi naik turun dunia bisnis patut menjadi contoh. Salah satunya adalah cara Sukanto Tanoto yang berhasil mengembangkan asetnya dengan baik.

Lahir dari sebuah keluarga sederhana di Belawan pada 25 Desember 1949, Sukanto Tanoto mampu mendirikan grup Royal Golden Eagle. Kini, perusahaan tersebut telah membuka lapangan kerja untuk 60 ribu orang lebih.

Karyawan Royal Golden Eagle tidak hanya ada di Indonesia. Sebagai korporasi skala internasional, mereka juga beroperasi dari Singapura, Malaysia, Filipina, Kanada, Brasil, Tiongkok, hingga Finlandia.

Aset Royal Golden Eagle bahkan ditaksir sudah mencapai 18 miliar dollar Amerika Serikat. Padahal, dulu, Sukanto Tanoto benar-benar mengembangkannya mulai dari bawah. Ia memulai segalanya dari sebuah toko keluarga kecil yang menjual minyak, onderdil mobil, dan bensin.

Sukanto bukanlah anak orang berada. Ia terpaksa putus sekolah pada 1966 karena sekolahnya ditutup dan ayahnya masih berstatus warga negara asing.

Tak lama berselang, sang ayah malah jatuh sakit. Kondisi ini membuat Sukanto Tanoto yang baru berumur 17 tahun mengambil alih tanggung jawab dan mengelola usaha keluarga. Berawal dari kondisi inilah, petualangan bisnis Sukanto Tanoto dimulai, hingga akhirnya bisa mengembangkan Royal Golden Eagle.

Sekitar tahun 1960-an, Sukanto Tanoto mendapat kesempatan untuk mendirikan usaha kontraktor perminyakan. Dengan toko kecil dan tiga karyawannya, ia mulai menyuplai suku cadang mesin untuk perusahaan minyak.

Berkat kerja keras dan kapabilitasnya, dalam beberapa tahun, bisnis diperluas hingga mencakup distribusi generator dan peralatan elektronik untuk kilang minyak, serta perawatan perangkat elektromekanis, mesin, dan pipa gas. Pada tahun 1967, cikal-bakal Royal Golden Eagle yang dulu bernama Raja Garuda Mas didirikan untuk terlibat dalam kontrak proyek perminyakan.

Pada era 1970-an, terjadi krisis minyal global, Sukanto Tanoto malah mendapat berkah dari semua itu. Bisnisnya terus berkembang dan pundi-pundi uang perusahaannya berkembang secara signifikan. Bahkan, ketika usianya sudah memasuki 26 tahun, Sukanto Tanoto sudah menjadi seorang miliuner.

Biodata Singkat Sukanto Tanoto

TIDAK BERPUAS DIRI

Tidak semua orang beruntung bisa mendapat kesempatan menjadi miliuner. Justru saat seseorang telah mencapainya, di sinilah titik krusialnya. Sukanto Tanoto memutuskan mengembangkan asetnya untuk semakin bisa membantu orang banyak.

Ketika dana perusahaannya cukup signifkan, pendiri Tanoto Foundation ini tidak berpuas diri. Sukanto Tanoto ingin mengembangkan asetnya. Kesempatan berkembang dianggapnya sebagai tantangan dan hasrat ini yang dia rasa harus dimiliki oleh para pengusaha.

“Bila Anda telah membuat 1 juta dollar pertama, Anda harus membuat rencana untuk membuatnya menjadi sepuluh kali lipat, bahkan seratus kali lipat,” saran Sukanto Tanoto.

Hal ini dipandang sebagai upaya untuk semakin bisa membantu banyak pihak karena dengan perkembangan aset, maka lapangan kerja untuk orang lain yang membutuhkan kian bertambah.

Sukanto Tanoto berpikir untuk mengembangkan Royal Golden Eagle. Ia mencari bidang industri baru yang akan diterjuninya. Terlebih lagi, ia memprediksi lonjakan pundi uang dari usaha kontraktor perminyakan yang dilakukannya tidak bisa bertahan sepanjang masa. Bagaimana nasib para karyawannya ketika akan ada penurunan? Itulah yang semakin memacu Sukanto Tanoto untuk menggarap usaha yang sukses.

Pada pertengahan era 1970-an, Sukanto Tanoto mendirikan pabrik kayu lapis pertamanya. Saat itu, keputusannya terlihat melawan arus karena belum ada pihak yang berani membuat pabrik serupa di Indonesia. Sebagai negeri subur yang mudah ditanami oleh pepohonan, saat itu Indonesia justru mengimpornya dari luar negeri.

Meski melawan arus, Sukanto Tanoto berkeras untuk membangun pabrik kayu lapis. Hasil investasinya tidak langsung terasa. Saat Pemerintah Indonesia mengubah kebijakannya terhadap industri hutan dengan menghentikan mengekspor kayu gelondongan, buah kerja Sukanto Tanoto baru terasa.

Ia dinilai sebagai sosok perintis yang mampu memberikan nilai tambah terhadap hasil hutan sehingga kian bernilai. Hal ini pula yang membuatnya diberi penghargaan sebagai “pengusaha yang membuat keajaiban” oleh Pemerintah Indonesia.

DIVERSIFIKASI USAHA

Sukses dalam mengembangkan industri kayu lapis tidak membuat Sukanto Tanoto berpuas diri lagi. Hal itu pula yang ia sarankan kepada para pengusaha lain supaya jangan pernah mau berpuas diri.

Ada salah satu trik yang diajarkannya untuk mengembangkan aset, yakni memperbanyak ragam usaha. Ini mirip pepatah jangan menaruh telur di keranjang yang sama agar ketika jatuh, tidak semua telur pecah.

Sukanto Tanoto akhirnya menerjuni industri kelapa sawit. Ia tergerak setelah melihat banyak perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Sukanto Tanoto mencari tahu produk apa saja yang bisa dihasilkan dari kelapa sawit. Ternyata, hasil dari minyak sawit sangat variatif mulai dari minyak hingga bahan baku dasar komestik.

Sukanto Tanoto yakin kelapa sawit akan menjadi produk yang dibutuhkan oleh banyak orang, sehingga ia segera melakukan diversifikasi usaha dengan mendirikan pabrik dan membuat perkebunan kelapa sawit.

“Setelah itu mulailah diversifikasi usaha, saya melihat potensi kebun (sawit). Dulu, swasta mana mau buka kebun (karena panennya lama). Ini (Sumatera) dekat Malaysia. Di sana buka kebun besar-besaran. Lalu saya kalkulasi, penduduk Indonesia 10 kali lebih banyak dari Malaysia, (tetapi tidak ada yang mau buka perkebunan sawit). Padahal itu untuk bahan pangan, minyak goreng,” kata Sukanto Tanoto di Bisnis.com.

Seperti kayu lapis, industri perkebunan kelapa sawit butuh waktu panjang. Hasilnya tidak bisa dipetik dengan cepat karena mesti menanam pohon terlebih dulu. Namun, ketika masa panen tiba, hasil yang memuaskan dapat diraih.

Kisah serupa yang akhirnya membuat Sukanto Tanoto terus berupaya mengembangkan ragam usaha Royal Golden Eagle. Perusahaannya kini tercatat juga menerjuni industri pulp and paper, serat viscose, hingga energi.

Tentu saja setiap bidang memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun, Sukanto Tanoto tidak gentar. Ia mau belajar dan bekerja keras untuk menyelesaikan semua permasalahan yang dihadapi.

“Prioritas dan strategi bervariasi selama berbagai tahap pengembangan bisnis. Anda harus menyesuaikan dan mengubah pada saat yang tepat,” pesannya kepada para pengusaha.

Jadi, kalau ingin asetnya terus berlipat, jangan berpuas diri dengan pencapaian sekarang. Teruslah berpikir mencari peluang baru. Ketika semakin tumbuh besar, saat itulah Anda bisa seperti Sukanto Tanoto yang mampu membantu banyak orang.